Laporan 3 Praktikum 9                              Hari/Tanggal:  Senin/ 10 Mei 2010

m.k. Pengetahuan Bahan Baku                 Asisten         :  Fauziah Naryuning Tias

Industri Hasil Perairan                              Kelompok    :  5

KARAKTERISTIK MORFOLOGI, RENDEMEN SERTA KANDUNGAN PROTEIN KEONG PEPAYA (Melo sp.)

Anggraeni Ashory Suryani (C34080025), Bayu Prasetyo Subekti (C34080022), Dita Masluha (C34080027), Mufida Elfa Windayu (C34080030)

dan Rico Alwinsyah (C34080019)

Departemen Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Petanian Bogor

Abstrak

Indonesia memiliki wilayah perairan yang cukup luas dengan berbagai macam biotanya. Salah satu biota yang belum dimanfaatkan dan diteliti adalah keong pepaya (Melo sp.). Praktikum mengenai keong pepaya bertujuan untuk mengetahui karakteristik teknik preparasi keong pepaya (Melo sp.) dengan benar dan secara hati-hati juga untuk mengetahui rendemen daging beserta jeroan. Parameter yang digunakan dalam praktikum ini  adalah  rendemen baik daging maupun jeroan, uji organoleptik dan karaktesistik meristik serta morfometri.  Ciri morfologi keong pepaya (Melo sp.) diantaranya  berwarna kuning – jingga, cangkangnya berat dan besar, tidak mempunyai operkulum, tipe cangkang dekstral, kakinya besar dan berotot. Keong ini bersifat karnivor dengan makanan echinodermata dan moluska lain, reproduksi secara internal dan ovovivipar, bernapas dengan insang dan alat pencernaannya berupa nefridium. Dari pengukuran rendemen diketahui ukuran meristik pada keong pepaya yaitu berat total sebesar 193 gram, berat jeroan sebesar 45 gram dan berat daging keong pepaya sebesar 74 gram. Nilai rendemen dari jeroan adalah 38,34% dan nilai rendemen dari daging adalah 23,32%. Protein merupakan sumber-sumber asam amino yang mengandung unsure C, H, O dan N yang tidak dimilki oleh lemak dan karbohidrat. Analisis kadar protein pada keong pepaya berdasarkan metode kjeldahl yaitu sebesar 66,65%.

Kata kunci : keong pepaya (Melo sp),  morfologi, meristik, rendemen, kadar protein.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang beriklim tropis sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah. Sumberdaya hayati yang dimiliki Indonesia sangat beragam baik dalam hal jenis maupun  potensinya. Luas perairan Indonesia diperkirakan sekitar 5,8 juta km2 termasuk zona ekonomi eksklusif (ZEE) dengan panjang pantai 81.000 km. Luas perairan umum Indonesia 13,7 juta ha dan potensi produksi lestari (MSY) 900.000 ton/tahun dengan pemanfaatan 400.000 ton (45 %) pada tahun 2001 (Nurjanah 2005).

Berbagai jenis biota hasil perairan telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat Indonesia yang masih relatif rendah. Dewasa ini  masih banyak jenis biota hasil perairan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu contoh komoditi perairan yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah   biota yang berasal dari filum moluska kelas gastropoda yaitu keong papaya (Melo sp.). Gastropoda biasanya disebut siput atau keong. Terdapat di perairan tawar dan banyak juga yang terdapat di laut. Siput hanya mengalami sedikit perubahan bentuk cangkang dari nenek moyangnya. Modifikasi yang nyata terjadi pada siput adalah torsi. Torsi adalah peristiwa memutarnya cangkang beserta mantel, massa visceral dan rongga mantel sampai 180o berlawanan arah jarum jam terhadap kaki dan kepala. Bentuk cangkang siput umunya kecil seperti kerucut yang melingkar. Puncak kerucut yang merupakan bagian paling tua disebut apex. Sumbu kerucutnya disebut columella. Diantara bibir dalam (Inner lips) dan gelung terbesar terdapat umbicullus, yaitu columella yang berupa celah sempit sampai lebar dan dalam (Suwignyo et al. 2002).

Gastropoda memiliki bukaan cangkang yang disebut dengan aperture. Bukaan cangkang tersebut bisa berupa bukaan cangkang sebelah kanan (dekstral) maupun bukaan cangkang sebelah kiri (sinistral). Lapisan cangkang terdiri dari 4 macam lapisan, yaitu periostrakum, prismatik, lamella dan nacre. Bentuk khas kaki gastropoda ialah telapak kaki yang datar yang terdapat silia dan berbagai kelenjar yang dapat menghasilkan lendir yang dapat berfungsi untuk merayap pada substrat. Kebanyakan gastropoda bernapas dengan insang dengan sistem peredaran darah terbuka. Gastropoda dapat makan secara herbivora, karnivora, ciliary feeder, deposit feeder, parasit maupun scavenger. Sistem saraf gastopoda terdiri dari ganglion otak (mata, tentakel dan statocyte) dan mulut yang berupa rongga mulut. Alat ekskresi berupa sepasang protonephridia yang terletak di dalam massa visceral. Urin gastropoda dibuang bersama aliran air yang keluar dalam bentuk amoniak atau senyawa amonium. Reproduksinya dioecius dengan sebuah gonad yang terletak dekat saluran pencernaan dan massa visceral. Gastropoda memiliki arti ekonomis yang cukup penting sebagai makanan bagi ikan, burung, mamalia bahkan manusia. Larva gastropoda di laut merupakan makanan bagi anak ikan karnivor. Selain memiliki keuntungan, gastropoda juga mendatangkan kerugian seperti mengganggu atau merusak peternakan tiram dan kerang serta dapat menjadi parasit (Suwignyo 2002).

Salah satu jenis keong yang merupakan bagian dari gastropoda adalah keong pepaya (Melo sp) dari famili volutidae. Menurut Wee dan Peter (1994)  klasifikasi keong pepaya sebagai berikut:

Filum               : Moluska

Kelas               : Gastropoda

Ordo                : Negastropoda

Famili              : Volutidae

Genus              : Melo

Spesies            : Melo sp

Semua anggota Volutidae adalah karnivora. Mangsa mereka meliputi moluska dan echinodermata. Reproduksinya secara fertilisasi internal dan ovovivipar. Keong ini tidak mempunyai operkulum. Bila keong ini mati, maka cangkangnya akan dimanfaatkan oleh moluska lain seperti ketam.  Di Malaysia keong ini dikenal dengan nama kilah yang banyak di konsumsi sebagai makanan. Para nelayan memanfaatkan cangkang keong ini untuk mengeluarkan air dari perahu mereka (Wee dan peter 1994).

Tujuan dari praktikum adalah mengetahui teknik preparasi keong pepaya (Melo sp.) dengan benar dan secara hati-hati dan mengetahui rendemen daging beserta jeroan serta menguji kadar protein dari keong pepaya (Melo sp.).

METODE

Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum karakteristik morfologi keong pepaya (Melo sp.) dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 22 April 2010 untuk uji karakteristik morfologi dan rendemen baik berupa rendemen daging dan rendemen jeroan dan tanggal 29 April 2010 untuk uji proksimat berupa kadar protein. Praktikum pengetahuan bahan baku industri hasil perairan bertempat di Laboratorium Mikrobiologi Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah keong pepaya  (Melo sp.), H2SO4, CuSO4, K2SO4, aquades, asam borat, es, NaOH dan HCl. Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan digital, talenan, baskom, plastik, palu, labu kjeldahl, destilator, enlemeyer dan pisau.

Prosedur kerja

Keong pepaya diamati untuk diketahui morfologi dan meristiknya. Uji morfologi dapat kita lakukan dengan mengamati bentuk tubuh, ukuran, warna dan bagian-bagian yang terdapat di dalam tubuhnya. Sedangkan untuk ciri morfometrik kita dapat menghitung berat total, berat daging dan berat jeroan. Perhitungan bobot ini akan digunakan untuk menghitung rendemen. Keong ditimbang secara keseluruhan untuk diketahui bobot totalnya (W1). Kemudian   dipreparasi dengan cara dihancurkan bagian dari body whorl dengan menggunakan palu sehingga didapatkan bagian dalamnya dari keong pepaya. Kemudian daging dan jeroannya dipisahkan. Untuk mengetahui persentase rendemen daging dan jeroan dari keong pepaya dapat dihitung dengan rumus:

Rendemen daging dan jeroan yang telah didapat kemudian dipisahkan pada plastik yang berbeda. Rendemen daging yang didapat kemudian dicacah hingga halus kemudian dijemur. Rendemen kering yang didapat akan digunakan dalam uji selanjutnya. Uji selanjutnya merupakan uji proksimat berupa uji protein. Sampel yang sebelumnya telah dijemur kemudian ditimbang sebanyak 1 gram. Selanjutnya ditambahkan 10 ml H2SO4 dan 1 gram CuSO4 dan K2SO4 yang akan bertindak sebagai katalisator. Dilakukan pendestruksian pada suhu 400oC selama 2 jam hingga berwarna bening. Pada labu kjeldahl, sampel diencerkan dengan aquades sampai 100 ml. Sebanyak 10 ml sampel diambil dan dimasukkan ke dalam destilator. Kemudian NaOH sebanyak 10 ml dimasukkan untuk menetralkan sampel. Cairan dalam ujung kondensor ditampung dalam enlemeyer 125 ml yang berisi larutan H3BO3 dan 3 tetes indicator berupa methyl merah yang berada di bawah kondensor. Proses destilasi dilakukan sampai asam borat berubah warna dari merah menjadi hijau. Setelah larutan asam borat berwarna hijau, dilakukan proses titrasi. Proses titrasi dilakukan dengan menambahkan larutan HCl tetes demi tetes hingga warna asam borat kembali menjadi merah. Jumlah HCl yang dikeluarkan setara dengan NH3 yang diuapkan. Kemudian kadar nitrogen dan proteinnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Prosedur kerja analisis proksimat protein keong pepaya (Melo sp.) dapat dilihat pada Gambar 1.

Pentitrasian dengan HCl

Gambar. 1 Prosedur kerja analisis protein keong pepaya (Melo sp.)

Prosedur kerja secara keselurahan dapat dilihat pada Gambar. 2

Gambar. 2 Diagram alir prosedur kerja keong pepaya (Melo sp.)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik morfologi keong pepaya (Melo sp)

Karakteristik dan morfologi keong pepaya telah diamati pada praktikum pertama. Keong pepaya (Melo sp.) merupakan invertebrata atau hewan yang tidak memiliki tulang belakang yang termasuk ke dalam kelas Gastropoda yang tidak memiliki operkulum (nonoperkul gastropde). Keong pepaya bernapas dengan insang, bereproduksi dengan ovovivipar, bersifat karnivora dengan memakan moluskan lain yang berukuran lebih kecil, mempunyai alat ekskresi berupa nephridium, habitatnya tersebar di seluruh perairan Indo-Pasifik. Bagian-bagian tubuh dari keong pepaya adalah kaki, mantel, cangkang dan jeroan.

Ukuran keong pepaya sekitar 20 cm, cangkangnya berat dan berwarna kuning – jingga. Keong pepaya beradaptasi dengan menguburkan diri dalam pasir, memiliki kaki yang besar dan berotot serta memiliki sifon yang panjang (Wee dan Peter 1994). Setelah mengalami torsi, tubuh dan cangkangnya asimetri. Cangkang terdiri atas lapisan periostrakum, prismatik, lamela dan nacre dengan tipe cangkang dekstral (Suwignyo 2008).

Keong ini tergolong keong karnivora yang bereproduksi secara ovovivipar. Klasifikasi menunjukkan Keong Pepaya termasuk anggota famili vollutidae yang memiliki apex tersembunyi. Tidak seperti kebanyakan keong, keong pepaya tidak memiliki operkulum. Penampakan fisik keong pepaya dari luar yaitu cangkang yang terdiri dari 2 lapisan mayor, yaitu lapisan dalam yang terdiri dari lapisan periostrakum yang mempunyai lapisan warna dan lapisan palisade yang di dalamnya terdapat lapisan prismatik. Lapisan dalam terdiri dari lapisan lamella dan nakreas. Cangkang juga mempunyai bagian-bagian seperti body whorl, suture, aperture, dan inner serta outter lips. Selain cangkang terlihat pula kaki bertentakel. Cangkang keong papaya biasanya dimanfaatkan oleh ketam sebagai rumah barunya atau dapat juga digunakan sebagai asesoris hiasan rumah, asbak rokok dan para nelayan memanfaatkan cangkang ini sebagai gayung untuk mengeringkan air dari perahu mereka.  Bagian kepala Keong Pepaya terdapat mata, tentakel, dan mulut. Sedangkan bagian kakinya tidak memiliki penutup (operkulum) sehingga langsung menyentuh tanah (Trueman dan Clarke 1988).

Organ dalam Keong Pepaya meliputi siphon sebagai organ pertukaran air, insang berwarna putih, ginjal, usus, dan kelenjar pencernaan yang melingkar, ovari, maupun hati. Semua organ dalam tersebut termasuk dalam bagian mantel. Keong Pepaya memiliki sistem peredaran darah terbuka dengan nephridium sebagai alat ekskresinya. Keong Pepaya menggunakan insang sebagai alat pernafasan (Trueman dan Clarke 1988).

Keong pepaya tidak memiliki lapisan nacre. Morfologi keong pepaya dapat dilihat lebih jelas pada Gambar 3.

Gambar 3. Morfologi Keong Pepaya (Melo sp.)

Bentuk apex keong papaya yang tersembunyi

Sumber: Koleksi Pribadi

Gambar 4. Bentuk cangkang dan apex keong winga

Sumber: Ebay (2009)

Apex
Suture
Inner lip
Body whorl

Apex pada keong papaya akan semakin tersembunyi dan tidak terlihat saat keong papaya tumbuh menjadi dewasa. Semakin dewasa maka apex akan semakin tersembunyi.

Outer lip
Cangkang tipe sinistral
Cangkang tipe dekstral

Gambar 5. Morfologi Keong Pepaya

Sumber: Koleksi Pribadi

Ciri – ciri keong pepaya yang didapat kemudian dibandingkan dengan gastropoda dan disajikan dalam Tabel 1.

Tabel. 1 Perbandingan morfologi keong pepaya dan gastropoda

Variabel Keong pepaya (Melo sp.) Gastropoda
Operkulum Tidak mempunyai operculum Terdapat operculum
Alat pernafasan Sepasang insang Sebuah atau sepasang insang
Sipón Ada Ada
Lapisan cangkang 3 lapis (periostracum, prismatik dan lamela) 4 lapis (periostracum, prismatik, nakre dan lamela)
Warna cangkang Beige sampai jingga Kecoklatan
Alat ekresi Nephridium Nephridium
Sistem syaraf Ganglion Cincin syaraf dengan beberapa ganglion dan dua pasang benang syaraf
Cara makan Karnivora Karnivora, parasit, ciliary feerde, deposit feeder
Reproduksi Ovovivipar Dioceous
Saluran pencernaan Lengkap Lengkap
Hábitat Karang lepas pantai yang terpencil dan dalam Laut tawar dan laut
Bagian tubuh 4 (mantel, cangkang, isi perut dan kaki) 4 (kepala, kaki, isi perut dan mantel)
Organ tambahan Tidak ada Palial eye (mata ketiga)
Sistem peredaran darah Terbuka Terbuka

Rendemen

Rendemen merupakan bagian tubuh yang dapat dimanfaatkan. Rendemen juga merupakan suatu parameter yang paling penting untuk mengetahui nilai ekonomis dan efektivitas suatu produk bahan atau bahan pangan. Rendemen digunakan untuk memperkirakan berapa bagian tubuh dari bahan baku yang dapat digunakan sebagai bahan makanan atau dapat dimanfaatkan. Rendemen dari suatu bahan baku tergantung dari umur, jenis, dan bentuk (Trisnobudi 2001).

Ukuran meristik pada keong pepaya yaitu berat total sebesar 193 gram, berat jeroan sebesar 45 gram dan berat daging sebesar 74 gram. Nilai rendemen dari jeroan adalah 23,32% dan nilai rendemen dari daging adalah 38,34%. Semakin besar nilai rendemen suatu bahan, maka dapat dikatakan nilai ekonomis bahan pangan tersebut semakin tinggi. Sebaliknya, jika nilai rendemennya rendah maka nilai ekonomisnya juga rendah. Jika dilihat dari rendemen yang didapat pada keong pepaya baik rendemen berupa kuli maupun jeroan dapat dinyatakan bahwa rendemen yang didapatkan tidak efektif karena nilai rendemen dari jeroan dan daging lebih kecil dari 50%. Gambar daging dan jeroan keong pepaya dapat dilihat pada Gambar 6 dan 7.

Gambar 6. Daging Keong Pepaya               Gambar 7. Jeroan Keong Pepaya

Sumber: Koleksi pribadi                                  Sumber: Koleksi Pribadi

Kadar protein

Protein merupakan sumber-sumber asam amino yang mengandung unsure C, H, O dan N yang tidak dimilki oleh lemak dan karbohidrat. Molekul protein juga mengandung fosfor, belerang dan unsure logam seperti besi dan tembaga. Protein berperan biologis, terutama dalam membangun unit terkecil kehidupan yaitu sel, mentransfer energi, bioenergi dan proses dinamisasi yang berkesinambungan. Berdasarkan kelarutannya, protein dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu protein kontraktil (larut garam), protein sarkoplasma (larut air) dan protein jaringan ikat. Protein kontraktil terdiri dari aktin, myosin, aktomyosin dan protein regulasi (troponin, tropomiosin dan aktinin). Protein kontraktil ini berfungsi sebagai kontraksi otot dan berperan pada proses koagulasi dan pembentukkan gel pada produk surimi. Jumlah protein kontraktil sekitar 66 –77 % dari protein total ikan. Protein sarkoplasma bervariasi tergantung jenis spesies, tetapi ikan pelagis akan mempunyai kandungan protein sarkoplasma daripada ikan demersal. Jumlahnya 20 – 30 % dari total protein tubuh yang terdapat dalam bentuk enzim (krestin kinase dan AMP diaminase), mioalbumin dan mioglubulin. Protein jaringan ikat terdiri dari sarkoplasma dan elastin. Jumlahnya bervariasi tergantung jenis (Hawab H.M 2003).

Kadar protein pada keong pepaya (Melo sp.) dapat dihitung menggunakan metode kjeldahl. Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan dengan alkali kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi. Metode ini telah banyak mengalami modifikasi. Metode ini cocok digunakan secara semimikro, sebab hanya memerlukan jumlah sampel dan pereaksi yang sedikit dan waktu analisa yang pendek.

Cara Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar nitrogennya. Dengan mengalikan hasil analisis tersebut dengan angka konversi 6,25, diperoleh nilai protein dalam bahan makanan itu. Untuk beras, kedelai, dan gandum angka konversi berturut-turut sebagai berikut: 5,95, 5,71, dan 5,83. Angka 6,25 berasal dari angka konversi serum albumin yang biasanya mengandung 16% nitrogen. Prinsip cara analisis Kjeldahl adalah sebagai berikut: mula-mula bahan didestruksi dengan asam sulfat pekat menggunakan katalis selenium oksiklorida atau butiran Zn. Amonia yang terjadi ditampung dan dititrasi dengan bantuan indikator. Cara Kjeldahl pada umumnya dapat dibedakan atas dua cara, yaitu cara makro dan semimakro. Cara makro Kjeldahl digunakan untuk contoh yang sukar dihomogenisasi dan besar contoh 1-3 g, sedang semimikro Kjeldahl dirancang untuk contoh ukuran kecil yaitu kurang dari 300 mg dari bahan yang homogen. Cara analisis tersebut akan berhasil baik dengan asumsi nitrogen dalam bentuk ikatan N-N dan N-O dalam sampel tidak terdapat dalam jumlah yang besar. Kekurangan cara analisis ini ialah bahwa purin, pirimidina, vitamin-vitamin, asam amino besar, kreatina, dan kreatinina ikut teranalisis dan terukur sebagai nitrogen protein. Walaupun demikian, cara ini kini masih digunakan dan dianggap cukup teliti untuk pengukuran kadar protein dalam bahan makanan (Winarno 2009).

Analisis kadar protein pada keong pepaya berdasarkan metode kjeldahl yaitu duplo 1 sebesar 67,375% dan duplo 2 sebesar 65,625% dengan rata-rata kadar protein keong pepaya sebesar 66,65%. Kadar protein yang terdapat dalam keong pepaya dinilai cukup besar. Kandungan protein pada keong matah merah sebesar 11,8%. Perbedaan kadar protein antara kedua jenis keong kelas gastropoda ini dapat dikarenakan perbedaan keadaan awal dari sampel yang digunakan. Adanya proses pengeringan pada bahan dapat mengurangi kadar air yang terdapat di dalam bahan dan meningkatkan kadar protein secara proporsional. Selain itu,tingginya kadar protein pada keong pepaya karena yang dihitung bukan hanya protein nitrogen saja (NP) tetapi dihitung pula kandungan non nitrogen protein (NPN). Selain itu perbedaan makanan serta habitat juga menyebabkan adanya perbedaan kadar protein.

KESIMPULAN

Praktikum pengetahuan bahan baku industri hasil perairan dengan bahan keong pepaya (Melo sp.) menjadikan praktikan bisa mengamati karakteristik morfologi dan preparasi keong papaya dengan benar. Morfologi keong papaya yaitu memiki bukaan cangkang dekstral, reproduksi ovovivivar dan alat ekskresi berupa nephridia. Mengetahui rendemen jeroan beserta daging keong papaya. Nilai dari rendemen jeroan keong pepaya sebesar 23,32% dan rendemen daging sebesar 38,34% yang dapat dinyatakan bahwa rendemen yang didapatkan tidak efisen karena nilai rendemen yang didapatkan kurang dari 50%. Analisis kadar protein pada keong pepaya berdasarkan metode kjeldahl yaitu duplo 1 sebesar 66,65%. Kadar protein yang terdapat dalam keong pepaya dinilai cukup besar jika dibandingkan dengan kadar protein pada keong mata merah sebesar 11,8%.

DAFTAR PUSTAKA

Ebay. 2009. Bailer Volute. http://www.sealifegifts.net [ 1 Mei 2010].

Hawab HM. 2003. Pengantar Biokimia. Malang: Bayu media.

Nurjanah, Nitibaskara RR,Madiah E. 2005.Pengaruh penambahan bahan pengikut terhadap karakteristik fisik otak-otak ikan sapu-sapu (Liposarcus pardalis). Buletin Teknologi Hasil Perikanan.

Purwaningsih. 2007. Kajian pemanfaatan keong mata merah (Cerithidea obtusa) dan uji aktivitas antiproliferasi pada sel lestari tumor secara in vitro dan in vivo. [tesis]. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Suwignyo S, Widigdo B, Wardianto Y, Krisanti M .2005. Avertebrata Air jilid 1. Bogor:   IPB prees

Trisnobudi A, Hoei TL, Nugraha ER. 2001. Pengukuran rendemen tebu menggunakan gelombang ultrasonik. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, Vol XII, No.1

Trueman, E. R., Clarke, M. R. 1988. The Mullosca Volume 11 Form and Function. California: Academic Press, Inc.

Wee Y.C. and Peter K. L. Ng. 1994. A First Look at Biodiversity in Singapore.

http://www.wildsingapore.com. [24 April 2010].

Winarno FG. 2009. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Mbrio Press.

LAMPIRAN

∞ Rendemen (Kelompok 5)

= 38,34%

= 23,32%

Kadar Protein

Duplo 1


Duplo 2



LAMPIRAN GAMBAR

(a)

(b)                                   (c)                                (d)

(e)                                                  (f)                                            (g)

Keterangan:

(a)     :  proses pendestruksian

(b)     :  hasil titrasi

(c):  larutan asam borat

(d)     :  larutan HCl

(e):  alat kjeldahl

(f)       :     proses pentitrasian

(g):  proses pemasukan asam sulfat pekat

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment